Biar Terbang Bersama Zarrah
Jika sekarang benci, berarti dulu sempat cinta bukan ???. seharusnya kalimat itu tercanang lekat-lekat dalam benakmu. Namun pada realitanya, semua terbang seiring angin menerbangkan butiran zarrah.
Saat ini aku berada dalam adonan tiramisu. Kukira aku akan selalu merasakan masa-masa manis yang tak kuketahui ternyata di akhir sensasinya berujung pada rasa pahit. Masa ini kudapati ketika putih abu-abu menjadi busana kebesaranku dan teman-temanku di hari senin dan selasa. Masa pencarian jati diri dan citra diri. Susah, senang, canda, tangis, kekonyolan, kekompakan, persahabatan semua lengkap pokoknya.
Hingga kutemukan seseorang yang sempat menjadi pelengkap cerita masa putih abu-abuku. Sebenarnya bukan penemuan baru sih(jiiiiaaahh). Soalnya hamir tiap minggu aku bertemu dengan dia dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di sekolah. Namun kali ini, chemistry bersensasi marmut merah jambu tengah menjadi setting suasana tersendiri untuk aku, terlebih kita.
Maukah kamu menjadi yang
Pertama untukku?
Sender:
Taufik
+628155614067
Mataku yang masih riyip-riyip mengantuk mencoba membaca pesan yang masuk di ponselku. Seperti minum obat anti ngantuk, mataku langsung terbelalak dan menyala 1000 watt. Dan aku membacanya ulang. Jedar-jedor alunan jantungku mengalun seperti di iringi lagu paling romantis. Kamarku berubah menjadi taman bunga yang di huni oleh puluhan kupu-kupu cantik. Waw Taufik, cowok super zuper duper cuek bebek wek wek menyatakan cinta kepadaku. Cia cia cia cia.
To:
Taufik
Iya mau ;)Sent : 19-Dec-2012
Hualah,, tanpa menghitung beras aku membalas sms dari Taufik, karena sudah sejak lama aku berharap dia menjadi pacarku. Meskipun aku tahu sifat dia bagaimana. Namun itulah yang membuatku tertarik pada dia. Stay coolnya bikin penasaran tersendiri buat aku.
Olala… berarti mulai detik ini aku punya pacar dong. Hehehehehhe. Maklum sudah 2 tahun aku ngejomblo. Bikin bosen tau nggak.
Na…na…na….na… huuuyyeee…
“ Yaelah ni anak pagi-pagi uda muter-muter sambil nyanyi-nyanyi dengan lirik nggak jelas. Noh buruan kamu sudah di tunggu sama Taufik dari tadi. Latihan yang giat, kompetisi udah di depan mata Sya ” kata Reza yang sepertinya sudah lama datang di ruang latihan.
“ Assalamualaikum Taufik, sudah lama ya ?? ” aku menyapa Taufik yang tengah menyiapkan alat peraga untuk latihan PP (pertolongan pertama).
“ Eh waalaikumsalam Sya, enggak kok, barusan aja.” Jawab Taufik sembari memandangku. Tapi tingkahnya tetap cool. Tak menunjukkan kalau kita ini sudah pacaran. Atau mungkin dia belum siap kasih tau teman-teman kalau kita ini baru jadian. Hanya sorot matanya hari ini lain dari biasanya. Kutemukan sebongkah kebahagiaan nongkrong di bola matanya.
“ Ehhhhmmm,,, udah sarapan Fik?”
“ eiitssss bukannya latihan malah ngobrol saja kalian ini, tuh Kak Arif sudah datang, kena semprot bukan salah aku lho ya !” kata Devi yang tiba-tiba sewot tanpa sebab. Ato mungkin ngiri kali ya sama aku dan Taufik.
Ehhhh Vi,,, tau nggak sih kamu kalau aku sama Taufik sudah resmi menjadi pacar loh, gangguin orang lagi seneng aja sih. Gerutuku dalam hati
“ Yaelah Vi, ini juga sambil kerja kali” kata Taufik tak kalah sewotnya.
Tak apalah menghabiskan liburan dengan tetap berlatih di sekolah, toh disini juga ada orang yang tersayang. Seharianpun asal dengan Taufik tak apa. Gumamku dalam hati dengan sesekali memandang sosok pacar baruku. Sesekali setiap aku memandang penuh sayang ke Taufik, dia juga ternyata memandangku. Seiris senyum manisnya terkadang dia lemparkan ke arahku. Sepersekian detik setelah aku mendapati senyum itu cepat-cepat aku menundukkan kepala. Takut salting sendiri J
Entah, hari ini Taufik tak seperti biasanya, seakan kata-kata endelnya yang ceplas-ceplos tiba-tiba beku hingga minus nol derajat. Hanya senyum manisnya yang sedari tadi mencair. Aku mencoba mencari bahan pembicaraan, namun ketika aku memulai pembicaraan, Taufik juga ingin berbicara. Jadi kami berdua tertawa cekikan melihat kelakuan kami.
“ kamu uda kasih tau anak-anak kalau kita udah pacaran Fik?” aku mencoba memulai pembicaraan lagi.
“ Belum Sya, kenapa?”
“ ehhmm,,,, gitu yah. Enggak kok Fik,” jawabku agak kecewa. Bukankah ini kabar gembira dan harus ada kedaulatan diatasnya.
“ aku belum siap Sya, biar mereka tahu dengan sendirinya” Taufik memberi alasan.
“ yaudah, aku aja yang bilang ke temen-temen yag !” pintaku enuh semangat
“ Nunggu saat yang tepat aja ya Sya” jawab Taufik dengan stay coolnya
“ WOOOYYYY,,, aku butuh kedaulatan Fik, aku nggak mau kehilangan kamu, emang ada yang salah ya sama hubungan kita ” teriakku dalam hati.
Mata Taufik dan mataku beradu, mencoba menjelaskan keinginannya dan keinginanku. Namun kuredupkan pandanganku, mencoba mengerti keinginan Taufik, aku meredam keposesifanku terhadapnya. Maklum, kehadirannya serasa membawa sensasi tersendiri untukku. Ulasan senyum semanis mungkin kulempar dalam peraduan pandang saat itu. Sebagai pertanda kalau aku menyetujui keinginan Taufik.
Tak terasa pukul 15.00 WIB, yah tak terasa. Gimana enggak, kan ada Taufik noh. Heheheheheheh.
“ Sya, sorry, aku pulang duluan ya. Umi ngomel-ngomel minta jemput dari tadi. Kamu pulangnya barengan sama Taufik atau anak-anak ya. Buru-buru nih” Kata Devi sambil mengemas tasnya.
“ Oh ya Vi, tenang aja. Aku juga ntar mau nganter Tasya pulang kok” sahut Taufik
“ Wah, kebetulan banget tuh Sya, yaudah ya. Aku pulang. Assalamu’alaikum” Devi pamitan sambil berlari kecil menuju tempat parkir sekolah menjemput motor kesayangannya yang sudah dari pagi tadi cangkruk di sana.
Huuuuuaaaa,, Taufik mau nganterin aku pulang. Padahal tadi juga dia nggak bilang kalo mau nganterin aku pulang. Akupun tak pernah meminta untuk dianter pulang. Dasar nih anak, bikin jengkel tapi ngegemesin tau nggak. Sulit dieja dan ditebak kemauannnya.
“Maaf Fik, jadi ngerepotin kamu” aku berusaha sok nggak mau dianter padahal MAU BANGEEEETTT. Huuuuaaaaaaa.
“Nggak kok Sya, lagi pula aku juga lagi free. Atau kamu nggak mau aku anterin pulang?” tanya Taufik
“Oohhhhh,,nggak kok. Mau, mau. Pake banget malahan” uuppss. Keceplosan, padahal kan niatku sok nggak mau. Wah dasar. Emang ya stay cool itu sulit banget.
“ yaudah, sono gih. Beresin peralatan dulu sama anak-anak. Aku tunggu diparkiran ya kalo udah selesai.” Jawab Taufik sambil agak tertawa ngeliat tingkahku yang aneh.
“ loh, kamu nggak ikut ngebantuin emang Fik?”
“ ya iya dong Sya. Biar cepet selesai juga. Dan bisa cepet-cepet nganterin kamu pulang juga. ” jawab Taufik sambil berlalu membereskan perlengkapan latihan.
Akupun juga berlalu sambil beres-beres. Serasa lagi di taman bunga dan kupu-kupu sedang menari-nari di sekitarku. Jjjiiiaahh.
“ Nih helm nya Sya” kata Taufik dengan melempar senyum termanis yang pernah ku dapati sepanjang bersamanya hari ini.
Suasana lukisan alam kali ini hitam kelam. Sepertinya tak lama lagi hujan kan berlomba-lomba turun membasahi tanah yang telah berjanji menyuburkan setiap tanaman yang menancapinya.
Taufik langsung tancap gas. Berlalu meninggalkan sekolah. di tengah perjalanan kita tak banyak berbincang-bincang. Hanya seperlunya saja. Taufik konsentrasi pada setir motornya. Sedangkan pikiranku jauh melayang-layang ke taman bunga.
“ loh kok berhenti Fik?. Kan rumahku masih jauh.”
“ hujan Sya. Kita berteduh dulu ya sambil ngopi. Nungguin hujan reda. Aku lupa tadi nggak bawa mantel hujan. Ntar kalau kamu kehujanan, sakit. Siapa juga yang susah ntar. Aku kan nggak pengen cewekku yang manis ini sakit. Bentar lagi juga ada kompetisi yang harus kamu lewati kan” kata Taufik panjang lebar.
Oh my God. Ini hujan ya. Saking asyiknya di bonceng sama Taufik. Hujanpun aku tak tau. Oh inikah cinta?.
Aku dan Taufik berhenti di sebuah Cafe di sepanjang jalan menuju rumah yang biasannya aku hanya memperhatikannya ketika lewat berangkat sekolah. Di sana sini aku melihat ruangannya bertemakan Disney. Gimana enggak. Lhawong di papan namanya saja Disney Cafe. Taufik memilih meja nomor 17 yang mejanya bergambar karakter Donald Duck. Pandanganku masih berpetualang menjelajahi seisi ruangan yang di sebut Disney Cafe ini. Membaca suasana sekitar.
“ mau makan dan minum apa Sya? ” tanya Taufik sembari menyodorkan rentetan daftar makanan dan minuman.
“ Terserah kamu aja Fik. ” jawabku sambil gelagapan
“ Beneran yah Sya, nggak boleh protes lho !”
“ Apapun yang kamu suka pasti aku juga suka kok Fik ” jawabku meyakinkan. Dan mataku masih ingin membaca seluruh kegiatan yang berada dalam Cafe ini. Tembok-temboknya terdapat gambar-gambar tokoh-tokoh disney. Mungkin dalam bayangan kalian kok kayak playgroup ya?. Jangan salah, meskipun bertemakan disney tapi suasananya sweet dan classic.
“ Mbak….mbak….” Taufik memanggil pelayan Cafe dan memecahkan lamunanku.
“ Iya mas, mau pesan apa?” Mbak nya datang dari ujung Cafe membawakan buku daftar pesanan.
“ Cappucino panas dua sama Coklat brownies dua ya mbag” Jawab Taufik
“ baik mas, permisi ” mbak itu berlalu sambil membawa
Daftar pesanan Taufik
“Gimana Sya, asyik nggak tempatnya?” tanya Taufik
“ lumayan. Emang kamu sering ke sini Fik?” jawabku
“ kalo lagi pengen aja sih Sya. Kenapa?”
“ enggak kok Fik ”
Aku dan Taufik ngobrol sana-sini dengan tema yang gonta-ganti. Tak lama kemudian pesanan Taufik datang.
Waw, Cappucino dan coklat brownies. Taufik kok tau sih kesukaanku. Waduh jangan-jangan selama ini dia selalu mejadi mata-mataku. Ah, jangan ge er dong Tasya. Kebetulan juga kali. Nggak mungkin kan seorang seperti Taufik yang cuek bebek wek-wek dengan stay coolnya tiba-tiba mata-matain kamu. Kok yo lalar gawe tenan nuuu. Tapi meskipun cueknya minta ampun, sweet juga lho.
“ Sya, kok bengong sih. Ayo dimakan Sya! Atau kamu nggak suka ya?.” kata Taufik sambil melambaikan tangannya ke arahku yang jatuh dalam lamunanku tentangnya.
“ Aku kan uda bilang Fik. Apapun yang kamu suka aku juga pasti suka. Tapi kalo yang satu ini. Aku bener-bener suka. Kamu kok tau sih kesukaanku? Jangan-jangan kamu suka mata-matain aku yag! Atau kamu suka nguntitin aku?” tanyaku seperti sedang mengintrogasi maling
“ ye,,,, endelnya mulai kambuh nih. Dari dulu kali aku suka cappucino sama brownies. Dan kebetulan kamu juga suka kan? ”
“ hehehehhehe… gitu yag!” aku tertawa ke ge er an.
Di tengah kami berbincang-bincang lagu dari Adera dengan “lebih nindah”nya mengalun senada dengan suasana hatiku sore ini. Rasanya aku tak ingin mengakhiri saat-saat seperti ini.
Saat aku tenggelam dalam sendu
Waktupun enggan untuk berlalu
Aku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin aku lihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat aku melihat senyummu
Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku untuk menjalani hidup berdua denganmu slama lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
Setelah cappucino dan brownies habis dan hujan pun reda. Akhirnya kami pulang.
“ Fik, makasih untuk hari ini ya. Kalau saja aku pawang hujan. Aku minta kepada Sang Pemberi Hujan biar hujan terus. Biar aku bisa lama-lama sama kamu. Hehehehe ” kataku kepada Taufik. biar dikatain lebay, emang nyatanya gitu.
“ sama-sama Sya. Salam ya ke Umi sama Abi kamu. Maaf aku nggak bisa mampir. Udah malem. Takut di cari in sama orang-orang dirumah. Assalamualaikum” Kata Taufik sambil berpamitan pulang.
“ oh ya Fik. Hati-hati ya di jalan.”
Dan motor Taufik melaju meninggalkan pelataran rumahku. Aku tak ingin beranjak dari tempat berdiriku sekarang. Aku masih ingin memandang Taufik. Hingga suara Umi dari dalam memanggilku.
“ Ning, ayo masuk. Kok malah ngelamun di situ tho!” teriak Umi dari serambi rumah
“ iya Mi, ini juga mau masuk” jawabku sambil masih memperhatikan Taufik berlalu dengan motornya.
1 bulan kemudian
Pernah nggak kamu punya pacar namun ketika kamu face to face di sekolah dia bertingkah seolah kamu hanya teman biasa. Namun kamu baru akan merasakan punya pacar hanya ketika di sebuah short message saja?. Jarang bertemu walaupun satu sekolah.
Perasaan kamu gimana?. Merasa nggak dianggap di dunia nyata. Namun begitu manis di sebuah short message. Sebenarnya si doi malu berpacaran dengan kita atau jangan-jangan kita yang hanya pacar simpanan. Hanya tempat pelarian cintanya semata?. Mau marah, dikiranya posesif. Di diemin berarti kita di bodohin.
Ya itulah yang terjadi ketika di sekolah. aku dan Taufik sudah satu bulan lebih berpacaran namun hanya sekedar ingin melihat wajahnya saja aku tak bisa.. Kita memang jurusan. Taufik anak Science sedangkan aku anak Social. Tapi teman-temanku walaupun beda kelas pasti dijemput oleh pacarnya kalau pulang sekolah walau hanya sekedar barengan ke tempat parkir atau ke kantin sekolah. jangankan mengajak makan bareng dikantin sekolah. malam minggupun tak pernah barang satu kalipun dia mengajag aku nge date walau hanya sekedar cari angin.
Semua teman-temanku sudah tau kalau akau sudah pacaran sama Taufik. Tapi ada juga yang nggak percaya. Gimana enggak, dia bertingkah cool sekali sama aku ketika di sekolah. emang ada yang salah ya kalau hanya sekedar main sebentar ke kelasku atau ngajak makan bareng dikantin. Tapi aku tak pernah menuntut hal ini kepada Taufik. Yah aku juga harus ngerti kalau aku juga pacar pertamanya dia. Pasti ada suatu alasan tersendiri. Hingga kudapati suatu kejadian yang menuntutku untuk mengeluarkan uneg-uneg yang sudah bikin aku mbuneg ini.
“ Loh, kamu kenapa Sya. Kok nangis?. Sakit?” Tanya Devi yang sedang memperhatikanku sesenggukan di koridor sekolah.
“ Enggak kok Vi. Aku nggak sakit. yuk kita pulang, aku barengan sama kamu ya!” Aku mengusap air mata yang beberapa detik lalu berlomba terjun bebas dari mataku.
“ loh katanya tadi mau pulang bareng Taufik. Mana Taufik Sya?” tanya Devi dengan menggantungkan kecurigaan atasku.
“ Nggak jadi Vi. Udahlah, ayo kita pulang!” ajakku
“ tunggu dulu, kalo kamu nangis kayak gini berarti ada apa-apa. Kamu tunggu aku disini dulu. Aku mau cari Taufik. OK! Jangan kemana-mana ya Sya!” kata Devi setengah berteriak sambil berlari meninggalkanku.
Di taman sekolah
“ Oh, jadi ini ya yang ngebuat Tasya jadi nangis. Tega ya kamu Fik. Tasya udah nungguin kamu dari tadi kamunya malah enak-enakan sama pacar baru kamu.” Kata Devi sambil marah-marah melihat Taufik sedang berduaan dengan Lala di taman sekolah
“ Astaghfirullah, aku lupa kalau tadi ada janji mau ngajak Tasya pulang bareng. Sekarang dia lagi dimana Vi?” tanya Taufik dengan tergopoh-gopoh dan langsung meninggalkan “teman kencan barunya” itu.
“ maaf mbag, aku bukan pacarnya Taufik. Kita tadi hanya membicarakan progam PTA tahun depan” jelas cewek itu sambil melongo karena dituding dia merebut pacar orang
“ tau ah, pokoknya gara-gara kamu sahabat aku nangis” jelas Devi sambil lari membuntuti Taufik yang sudah agak jauh dari TKP.
Di koridor sekolah
Aku masih sesenggukan di kursi pojok kelas. Aku masih belum percaya kalau Taufik setega ini dengan aku. Tadi sewaktu istirahat siang aku sempat bertemu sekilas dengannya di perpustakaan sekolah, dan dia mengajakku pulang bareng dan memintaku menunggu sepulang kegiatan ekstrakurikuler pramuka usai. Itupun dia bicaranya sambil berjalan dan tergopoh-gopoh. Aku paham kalau ia pasti sedang buru-buru masuk kelas. Aku maklumi dia. Tapi untuk kali ini, apa aku harus memakluminya lagi?. Pura-pura tak mengetahuinya kalau dia selingkuh dibelakangku?. Aku yang pacar “resmi”nya saja tak pernah tuh ngobrol asyik disekolah berlama-lamaan kayak gitu. Sepertinya sudah cukup aku mengalah untuk Taufik. Meskipun dia selalu membuatku tersenyum, namun itupun kuantitasnya sangat kecil dibandingkan membuatku meneteskan air mata. Aku terpejam dalam kecamuk hati yang tak karuan. Hatiku berkata jika saat ini Taufik di depanku hanya satu hal yang ingin aku katakan. “ KITA PUTUS!”.
“Sya, kamu kenapa?” tanya Taufik yang tiba-tiba nongol didepanku dan merogoh sakunya lantas memberikan sapu tangannya kepadaku.
Oh Tuhan, dia sekarang benar-benar dihadapanku. Dan aku harus menepati komitmen yang baru saja kubuat dengan diriku sendiri
“ maaf Fik, kita putus aja ya?” jawabku dengan enteng. Namun hanya di bibir, lain lagi jika hati ini yang berbicara. Beraaaattttt banget rasanya ngelepasin Taufik.
“ Sya dengerin aku, aku tadi tak seperti yang kamu kira. Aku sama Lala tadi hanya…..”
“ hanya apa Fik?” potongku agak teriak
“ Kamu pacarku kan Fik, tapi kenapa. Sekalipun kau tak pernah menemuiku walau sekedar menyapaku ketika di sekolah. apa kamu malu punya pacar seperti aku. Aku juga ingin Fik kayak temen-temen lainnya. Barengan waktu makan siang di kantin. Ditungguin kalau jam sekolah berakhir. Tapi kamu?. Serasa aku tak punya pacar Fik. Aku heran ya sama kamu. Atau kalau kamu malu menemuiku ketika di sekolah, kan bisa kamu menemuiku diluar sekolah. ngajakin ngedate kek. Mending aku nggak punya pacar kan ?. toh sama aja rasanya. Atau kamu sengaja ya, biar pacar baru kamu itu nggak tahu kalau kita masih pacaran. Terus setiap malam minggu kamu ngedate kan sama dia” Cerocosku mengeluarkan uneg-uneg panjang lebar
“ oh ya satu lagi. Aku baru ngerasa kalau aku punya pacar itu hanya ketika saling balas sms sama kamu. Selebihnya aku merasa tak pernah punya pacar Fik”. Tambahku.
“ Astaghfirullahaladzim Tasya, jadi itu kemauan kamu. Aku sama sekali tak pernah mengerti Sya. Satu hal yang perlu kamu canangkan dalam pikiranmu atasku saat ini Sya. Aku ngelakuin hal ini semua karena aku menjagamu dalam naungan serpihan bekas serpihan kaca yang sukar disentuh. Itu saja Sya. Bahkan aku tak pernah punya pacar baru satu pun. Aku bener-bener sayang sama kamu Sya. Tapi kalau emang kamu ingin putus sama aku. Oke Sya, aku hargai keinginan kamu. Dan aku tadi memang bener-bener lupa kalau aku udah janji bakalan nganterin kamu pulang” jelas Taufik
Hatiku rasanya tak karuan. perkataanku yang kulontarkan tadi tak mungkin untuk kutarik kembali. Tapi inilah jalan yang terbaik. Jalan pikir Taufik dan Aku berbeda. Aku tak menyangka kalau Taufik seperti itu. Berarti aku telah bersuudzon kepada Taufik.
“ Maafin aku Fik, aku negatif thinking sama kamu. Alur pikir kita berbeda. Terima kasih Fik. Kamu sempat menyempurnakan lukisan purnama dihatiku walaupun mendung ikut serta melengkapinya. Kita putus ya. Tapi aku tetap sayang sama kamu” jawabku dengan penuh penyesalan
“ tak apa Sya. Jadi kamu bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi saat ini” kata Taufik
Aku dan Taufik pun berlalu meninggalkan koridor sekolah menuju tempat parkir. Ternyata Devi sudah menungguku disana.
“ Aku pulang duluan aja ya Sya. Kamu kan udah ada Taufik” kata Devi sambil menghidupkan motornya
“ lho..lho Vi, aku kan tadi mau nebeng kamu!”
“ yaudah sana-sana Vi. Tasya pulang sama aku” kata Taufik
“ lho kok malah ngusir. Yaudah ya Sya, Fik. Aku pulang duluan. Assalamualaikum” kata Devi dan berlalu dengan motornya.
Hari ini aku dapat pelajaran penting dari Taufik. Bahwasannya pacaran itu tak harus saling memiliki. Harus saling memahami dan menjaga satu sama lain. Dan mungkin inilah terakhir kalinya aku dibonceng dan dianter pulang Taufik. Kunikmati perjalanan pulang hari ini. Menerawang jauh dalam satu bulan yang telah lalu. Dimana aku masih menjadi pacar Taufik dan hari ini aku sudah putus dengan dia. Sempat tak percaya memang. Tapi inilah keputusan yang telah aku ambil. Allah tadi langsung kontan mengabulkan do’aku. Bagaimana tidak. Baru saja aku berharap jika Taufik ada didepanku maka aku akan minta puus dengan dia. Belum sampai aku mengakhiri doaku. Dia sudah didepanku. Bukankah memang Allah senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan.
Setelah putus dari Taufik, memang aku tak langsung bisa melupakannya. Bahkan 2 minggu penuh aku tak pernah berkomunikasi dengan siapapun kecuali bila perlu. Dan aku hanya akan keluar kamar ketika berangkat sekolah, sholat, mandi dan makan. Mengunci diri di kamar. Merenungkan apa yang telah terjadi. Dan di setiap pagi aku selalu mengirimkan pesan singkat kepada Taufik walaupun hanya sekedar menyapanya. Walaupun tak satupun pesan dariku yang dia reply. Hingga aku benar-benar tak perlu lagi mengirimkan short message karena mendapati sebuah reply short message dari Taufik yang isinya
“ bisa nggak kamu tak seperti ini lagi.
Urusi saja apa yang mesti kau urusi.
Aku lebih menghargai niat baikmu jika kamu memakai caraku.
Jangan pernah sms aku lagi kalau hal itu
menyangkut urusan yang telah lalu.”
Sender:
Taufik
+628155614067
Mulai saat itu dan detik itu pula. Aku berkomitmen. Tak akan sekalipun aku sms dia lagi. Biarlah semua kenangan tentang dia terbang selaras dengan butiran zarrah yang diterpa angin. Taufik bukanlah pelabuhan terakhir yang wajib kupertahankan. Perjalananku masih panjang. Dan jika suatu saat aku memang ditaqdirkan denganNya. Aku yakin pasti DIA juga mempertemukan kita dengan cara seindah mungkin. Tapi satu hal yang sepertinya sulit diterbangkan bersama zarrah. Kenangan sewaktu nyeruput cappucino di Disney Cafe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar